2 Komentar

BERBEDA AWAL PUASA NAMUN TETAP JAGA UKHUWAH

Jakarta, BERBEDA AWAL PUASA. Ormas Muhammadiyah menjatuhkan awal puasa pada Jumat 20/7. Sementara hasil sidang isbat pemerintah menjatuhkan awal puasa pada Sabtu 21/7. Para tokoh ulama menghimbau perbedaan awal puasa harus dihormati. FOTO Lazuardi Birru/Andy Syaiful Fahmi

Oleh : Andy Syaiful Fahmi

Berbeda awal puasa hal yang menjadi permasalahan umat Islam dalam menentukan awal Ramadhan. Masing-masing telah menggunakan cara yang diajarkan Rasulullah. Jika ada perbedaan jangan sampai menjadi perpecahan ukhuwah.

Bulan Ramadhan bulan yang begitu istimewa bagi umat Islam. Sebab bulan Ramadhan dikenal dengan bulan penuh keberkahan, ampunan, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (Lailatul Qadr). Begitu istimewanya bulan Ramadhan sehingga tak heran banyak orang Islam berlomba-lomba dalam kebaikan saat memasuki bulan penuh kemuliaan ini.

Dari semua keistimewaan bulan Ramadhan ada permasalahan klasik yang selalu muncul saat memasuki bulan Ramadhan yakni penentuan awal puasa. Penentuan awal puasa kerap kali berbeda hal ini dikarenakan perbedaan pendapat mengenai cara yang diambil dalam menentukan awal puasa.

Di dalam Islam cara menentukan awal puasa ada dua cara yang pertama rukyat hilal  (melihat bulan) dan hisab (menghitung) . Hal ini sesuai dengan hadis Nabi “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka istikmal (menggenapkan) 30 hari. (hadis riwayat Bukhori.)

Indonesiapun tak terhindar dari perbedaan menentukan awal puasa. Organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan jatuh pada Jumat 20/7 dengan menggunakan cara hisab. Berbeda dengan Ormas Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan cara rukyatul hilal. Meski begitu pemerintah berdasarkan hasil sidang isbat atau penentuan awal puasa Ramadhan 1433 Hijriyah awal puasa jatuh pada Sabtu 21/7.

Tak hanya NU dan Muhammadiyah yang berbeda paham, Islam Kejawen dan tarekat-tarekat juga berbeda dalam menentukan awal puasa. Jamaah Islam Kejawen Alif Rebo Wage (aboge) menggunakan almanak Jawa untuk menentukan awal puasa.  Jamaah Tarekat Naqsabandiyah berpendapat bahwa awal puasa jatuh pada Rabu 18/7.

Sebagai muslim terbanyak di dunia, Indonesia harusnya bisa menjadi tolak ukur dalam memahami perbedaan. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua (bhineka tunggal ika) itulah semboyan negeri tercinta ini, jangan sampai terlupakan. Tak dipungkiri Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya dan agama. Sehingga perbedaan menjadi hal biasa, oleh karena itulah diperlukan rasa toleransi untuk menjaga persatuan/ukhuwah. Kemerdekaan inipun di dapat karena bersatunya orang-orang Indonesia melawan penjajah.

Islam di Indonesiapun tak hanya satu mazhab (aliran) saja yang berkembang. Berbagai mazhab berkembang di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Mazhab imam Syafii, Hambali, Hanafi, Maliki, Jafari, dan seterusnya.

Sehingga perbedaan pemahaman harus disikapi dengan bijaksana. Jangan menjadikan perbedaan sebagai ujung dari perpecahan melainkan sebagai penguat ukhuwah islamiyah. Mari kita jaga ukhuwah islamiyah ini, baik yang berpuasa 30 hari maupun 29 hari mari kita tunjukkan rasa toleransi terhadap perbedaan awal puasa ini. Berbeda awal puasa, marilah kita akhiri dengan kemenangan bersama saat Idul Fitri.

Iklan

2 comments on “BERBEDA AWAL PUASA NAMUN TETAP JAGA UKHUWAH

  1. mantap bang ::)
    banyak banget anchot text nya..he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: