Tinggalkan komentar

Feature Human Interest

Nenek Joko, Berjuang Sekuat Tenaga Demi Cucu

By Kaka Silmy Kaafah

 Gambar

 

Ket: 21/07 samping masjid Fatullah UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, nenek Joko berjualan buah ditengah teriknya matahari sambil membawa payung dan menjajakan buah-buahan.

 

Kamis siang, nenek Joko duduk di pinggir masjid ditengah  teriknya matahari. Nenek Joko duduk terdiam sambil membawa payung. Peluh menetes di pipinya yang keriput tergerus usia. Dia berumur 78 tahun. Di usia yang renta, ia tetap setiap hari  berjualan buah di samping masjid sedangkan paginya  ia berjualan nasi uduk di sekeliling pasar Ciputat. Dia tinggal di sebuah  kontrakan yang berukuran kecil di dekat pasar Ciputat bersama dengan 3 orang cucu yang selalu setia menemaninya. Nenek Joko memilki satu orang anak yang sudah berumah tangga namun karena keadaan ekonomi yang begitu sulit akhirnya nenek Joko tetap membanting tulang demi anak cucunya. Pendapatannya setiap hari berkisar antara 20 ribu sampai 30 ribu tergantung dari banyaknya buah dan nasi uduk yang berhasil ia jual.

Ia tidak membeli buah melainkan mengambil buah dari tetangganya yang berjualan buah jika buah tidak laku di jual maka ia akan mengembalikannya. ia  berjualan sendiri. Cucunya yang di biayai hanya satu orang, lelaki yang baru saja lulus SD. Cucu nenek bernama Adi, Adi menginginkan melanjutkan sekolah ke tingkat SMP namun nenek Joko tidak mempunyai uang yang lebih untuk membiayai pendidikan Adi ke tingkat SMP. Uang yang dia kumpulkan dari dulu hanya berjumlah 200 ribu sedangkan biaya pendaftaran sekolah Adi sebesar 300 ribu maka nenek Joko pun banting tulang demi mencari nafkah untuk Adi. Nenek Joko tidak pernah mengeluh meski kerap kali badannya terasa lelah di usianya yang senja. Dia tetap bekerja keras demi pendidikan cucunya. Di rumah nenek Joko berjuang sendiri untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya, belas kasihan tetangga kerap ia dapatkan ketika ia sudah tidak memiliki makanan. Nenek Joko berjualan buah seperti jambu, kesemek, sawo, jeruk bali dan pepaya.

Hasil jualan buah ia bagi dua dengan tetangganya yang menjadi distributor buah. Pendapatan yang tidak seberapa harus ditutupi dengan biaya hidup sehari-hari. Dulu kehidupan nenek Joko tidak seperti sekarang, ia hidup dengan bergelimang harta namun karena ia dijodohkan dengan orang tuanya ia kabur dari rumah dan hidup di jalanan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: