Tinggalkan komentar

Wawancara Sekjen Forum Studi Islam FISIP UI: Seni itu Boleh, Asal Baik

Pencekalan Lady Gaga berujung pada konser ‘Born This Way Hall’ digagalkan oleh pihak manajemen Gaga sendiri (23/5). Upaya ini bisa dianggap sebagai keberhasilan dalam mencegah pengaruh buruk Gaga terhadap remaja, sekaligus dianggap sebagai kegagalan dalam menunjukkan kebebasan berekspresi melalui seni. Berikut adalah wawancara antara MemoMerah (MM) dengan Sekertaris Jenderal dari Forum Studi Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FSI FISIP UI), Utama Putra Rahmatullah (Utama):

MM     : Sebelumnya sudah tahu tentang pencekalan Lady Gaga?

Utama : Dari media, sih

MM     : Terus, sejauh ini bagaimana pendapat Mas Utama terkait pencekalan tersebut. Apakah pencekalan itu bisa dianggap keberhasilan atau sebenarnya sebuah hambatan untuk kebebasan seni?

Utama : Terlepas dari berbagai apa yang berkembang, kalau saya setuju dengan pencekalan itu. Saya melihat lebih bagaimana Lady Gaga berpemanpilan, dan juga katanya lirik-liriknya yang tidak sesuai dengan budaya yang kita anut, dan kehidupan beragama kita. 

MM     : Jadi menurut Anda ini keberhasilan?

Utama : Ya, keberhasilan.

MM     : Terus, batas-batas mana yang membuat Lady Gaga bisa dianggap tidak sesuai dengan norma Indonesia?

Utama : Iya, setahu saya dari melihat di Internet, berpakaiannya kurang baik, apalagi di video-video klipnya. Sekilas saya melihat. Juga lirik-liriknya ga terlalu tahu, dan tidak mau tahu. Cuma mendengarkan orang, kalau katanya liriknya bertentangan (dengan norma Indonesia)

MM     : Sebenarnya, kalau kita ingin menilai suatu karya seni itu bermasalah atau tidak itu, kita perlu bagian detail? Misalnya lirik ini melanggar. Menurut Mas Utama penting tidak organisasi-organisasi keislaman punya badan sensor tertentu? Atau, percaya saja pada sensor pemerintah?

Utama : Menurut saya, perlu. Tidak perlu juga membuat lembaga sensor sendiri, tapi kita memang harus perhatian. Ini juga menyangkut bangsa, pengaruhnya juga terhadap orang. Apa yang dilihat di media pasti membuat orang mencari tahu.

MM     : Kalau seandainya ada orang yang melihat karya seni, anggaplah Lady Gaga yang mengandung erotisme. Nah, dia sendiri sudah melihat hal yang haram?

Utama : Iya, sih. Benar juga.

MM     : Itu sebuah kontroversi, kan? Menurut Mas sejauh ini, apakah pengorbanan seperti ini (melihat karya seni yang mengandung erotisme) tidak apa-apa?

Utama : Jelas kalau kita tahu, ini amar makruf nahi munkar. Mencegah keburukan juga.

MM     : Asal jangan keterusan?

Utama : Iya, sih. Banyak di media, kan? Dangdut-dangdut itu. Kalau seperti itu, jangan kita malah membiarkan juga. Ini kita mencegah, jadi menambah. Kalau misalnya sudah ada, pasti peran apapun, entah ormas Islam, ulama, masyarakat yang memang perhatian dengan Islam, pasti mencegah juga yang namanya dangdut erotis, banyak hal yang kita bilang sebagai kemaksiatan di Indonesia. Mencegah kemaksiatan itu.

MM     : Kalau kita ingin mencegah, kita tidak cuma mencekal?

Utama : Iya.

MM     : Karena fokus kita ke pemuda sendiri, dimana mereka punya semangat rebel. Mereka tidak mau mengikuti orangtua mereka, mengikuti selera musiknya tahun 70an. Nah, menurut Mas apa peran masjid atau lembaga dakwah bisa memberikan mereka pemahaman, paling tidak ini musik tidak baik?

Utama : Iya, perlu. Jadi, itu yang perlu gencar disuarakan lewat lembaga-lembaga dakwah. Seperti kita pemuda lewat lembaga dakwah fakultas perlu pencerdasan juga. Minimal bikin tulisan atau diskusi-diskusi per orang di peer group kita. Perlu ada pengingatan, tapi memang yang saya tangkap selama ini arus media, tidak cuma di tv atau di koran, Internet yang paling sulit dibendung, terutama Youtube. Sekarang orang mudah download. Pasti Lady Gaga, orang Indonesia tahu dari Youtube, Twitter, dan Facebook. Juga televisi asing. Peran media besar sekali. Juga tadi orang muda tidak sama seleranya dengan orang zaman dahulu. Yang pasti sekarang lebih berkembang, lebih modern. Saya punya teman di kelas yang kecewa tidak bisa nonton.

MM     : Kalau kita lihat di lingkungan di UI banyak, istilahnya orang-orang pintar, mereka bisa digerakkan dengan diskusi atau aspek-aspek intelek. Kalau untuk kalangan di luar kampus, bagaimana cara menggerakkan biar mereka (pemuda) sadar bahwa ini sebenarnya dosa?

Utama : Di luar kampus memang tidak bisa memaksakan juga. Kalau menurut saya lebih ke kita sudah menyampaikan, sudah mencegah, sudah memberikan usaha berdasarkan Islam dengan cara yang baik juga.

MM     : Ada semacam tips dari lembaga dakwah untuk menyibukkan pemuda di masjid. Kalau orangtua di masjid sudah biasa. Bagaimana tips-tips dari FSI?

Utama : Pastinya kita bikin penuansaan, bagaimana orang melihat. Ada hal-hal yang membuat mereka tertarik tentang Islam. Artinya juga kita bikin kajian-kajian yang terbuka, semua orang bisa ikut, jadi lebih tahu tentang Islam. Minimal dengan lembaga dakwah, orang bisa melihat, akhirnya tertarik, dan kemudian ikut. Itu peran kita mengajak mereka. Peran kita sesama muslim seperti itu.

MM     : Ada pesan kepada seluruh pemuda di Indonesia?

Utama : Kita sebagai pemuda melaksanakan hal-hal positif. Hindari hal-hal negatif, narkoba dan segala macamnya. Kita juga bangsa yang beragama. Peran agama penting juga. Kita harus belajar mengkaji agama kita. Juga untuk soal seni, kita tidak boleh tidak berseni. Seni itu baik. Allah mencintai keindahan. Seni itu bagian dari keindahan sendiri. Tidak apa-apa sejauh yang baik, dan masih dibenarkan dalam Islam. Kalau yang sudah bertentangan atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam, harus dihindari.

MM     : Jadi, seni itu dibenarkan tergantung isinya?

Utama : Tergantung isinya, tampilannya juga.

Pewawancara:

Ahmad Tombak Islam Al Ayyubi

Universitas Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: