2 Komentar

BERBEDA AWAL PUASA NAMUN TETAP JAGA UKHUWAH

Jakarta, BERBEDA AWAL PUASA. Ormas Muhammadiyah menjatuhkan awal puasa pada Jumat 20/7. Sementara hasil sidang isbat pemerintah menjatuhkan awal puasa pada Sabtu 21/7. Para tokoh ulama menghimbau perbedaan awal puasa harus dihormati. FOTO Lazuardi Birru/Andy Syaiful Fahmi

Oleh : Andy Syaiful Fahmi

Berbeda awal puasa hal yang menjadi permasalahan umat Islam dalam menentukan awal Ramadhan. Masing-masing telah menggunakan cara yang diajarkan Rasulullah. Jika ada perbedaan jangan sampai menjadi perpecahan ukhuwah.

Bulan Ramadhan bulan yang begitu istimewa bagi umat Islam. Sebab bulan Ramadhan dikenal dengan bulan penuh keberkahan, ampunan, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (Lailatul Qadr). Begitu istimewanya bulan Ramadhan sehingga tak heran banyak orang Islam berlomba-lomba dalam kebaikan saat memasuki bulan penuh kemuliaan ini.

Dari semua keistimewaan bulan Ramadhan ada permasalahan klasik yang selalu muncul saat memasuki bulan Ramadhan yakni penentuan awal puasa. Penentuan awal puasa kerap kali berbeda hal ini dikarenakan perbedaan pendapat mengenai cara yang diambil dalam menentukan awal puasa.

Di dalam Islam cara menentukan awal puasa ada dua cara yang pertama rukyat hilal  (melihat bulan) dan hisab (menghitung) . Hal ini sesuai dengan hadis Nabi “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka istikmal (menggenapkan) 30 hari. (hadis riwayat Bukhori.)

Indonesiapun tak terhindar dari perbedaan menentukan awal puasa. Organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan jatuh pada Jumat 20/7 dengan menggunakan cara hisab. Berbeda dengan Ormas Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan cara rukyatul hilal. Meski begitu pemerintah berdasarkan hasil sidang isbat atau penentuan awal puasa Ramadhan 1433 Hijriyah awal puasa jatuh pada Sabtu 21/7.

Tak hanya NU dan Muhammadiyah yang berbeda paham, Islam Kejawen dan tarekat-tarekat juga berbeda dalam menentukan awal puasa. Jamaah Islam Kejawen Alif Rebo Wage (aboge) menggunakan almanak Jawa untuk menentukan awal puasa.  Jamaah Tarekat Naqsabandiyah berpendapat bahwa awal puasa jatuh pada Rabu 18/7.

Sebagai muslim terbanyak di dunia, Indonesia harusnya bisa menjadi tolak ukur dalam memahami perbedaan. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua (bhineka tunggal ika) itulah semboyan negeri tercinta ini, jangan sampai terlupakan. Tak dipungkiri Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya dan agama. Sehingga perbedaan menjadi hal biasa, oleh karena itulah diperlukan rasa toleransi untuk menjaga persatuan/ukhuwah. Kemerdekaan inipun di dapat karena bersatunya orang-orang Indonesia melawan penjajah.

Islam di Indonesiapun tak hanya satu mazhab (aliran) saja yang berkembang. Berbagai mazhab berkembang di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Mazhab imam Syafii, Hambali, Hanafi, Maliki, Jafari, dan seterusnya.

Sehingga perbedaan pemahaman harus disikapi dengan bijaksana. Jangan menjadikan perbedaan sebagai ujung dari perpecahan melainkan sebagai penguat ukhuwah islamiyah. Mari kita jaga ukhuwah islamiyah ini, baik yang berpuasa 30 hari maupun 29 hari mari kita tunjukkan rasa toleransi terhadap perbedaan awal puasa ini. Berbeda awal puasa, marilah kita akhiri dengan kemenangan bersama saat Idul Fitri.

Tinggalkan komentar

Kampung Batik Palbatu

Image

Salah satu rumah yang dihias motif batik di Kampung Batik Palbatu.

Kampung Batik Palbatu, nama yang kini melekat pada jalan Palbatu, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Sebab hampir di sepanjang jalan Palbatu dinding rumah warga berhiaskan motif batik dan beberapa Ibu rumah tangga membuka kios batik di halaman rumahnya.

Konsep menjadikan palbatu sebagai kampung batik terinspirasi dari kampung batik Laweyan di Jawa atau Solo. “Awal konsep Kampung Batik Palbatu mau seperti kampung batik yang berada di daerah Jawa atau Solo” ungkap Harry salah satu pengagas Kampung Batik Palbatu.

Penggagas ide ini terdiri dari lima orang Ismoyo W Bimo, Harry Domino, Iwan Darmawan, Safri dan Agus. “Awal yang mempunyai ide Mas Bimo dan Mas Iwan. Lalu mereka mengajak saya (Harry), Mas Safri dan Mas Agus untuk ikut gabung mensukseskan konsep Kampung Batik Palbatu” Jelas Harry.

Penggagas ide ini bertujuan melestarikan budaya batik. Selain itu memperkenalkan batik pada masyarakat khususnya warga Jakarta bagaimana proses membatik. “Tujuan utamanya melestarikan batik dan memperkenalkan batik pada masyarakat” Ujar Harry kepada penulis. Membatik tidak hanya sekedar mencanting diats kain saja tetapi bisa dengan membatik tas, sendal, sepeda, motor, dinding rumah dan lain-lain. “Langkah awal kami membatik jalan, dengan dicat bermotif batik, selanjutnya dinding rumah warga, ada juga warga dengan inisiatif sendiri membatik pot bunga” Tambah Harry.

Harry dan Kawan-Kawanya membangun konsep Kampung Batik Palbatu bermodalkan secara swadaya. Dari warga untuk warga, dari uang tersebut dibelikan cat untuk mengecat dinding rumah warga. “Satu rumah kita cat, kemudian warga lain juga meminta untuk dicat rumahnya” kata Harry. Saat ini kurang lebih 15 Rt yang sudah dicat bermotif batik. Hal ini akan terus bertambah jika warga mengizinkan rumahnya dicat.

Dari konsep ini selain bisa melesterikan budaya batik. Perekonomian warga Palbatu juga ikut terangkat, sebab kini banyak warga  membuka kios batik di Pelataran rumahnya. Sehingga dengan begitu usaha batik akan berkembang. “Selain bisa melestarikan batik, hal ini membantu perekonimian dibidang batik, dari pembuat batik dan warga yang menjualnya” tutur Harry. Saat ini sanggar batik yang dimilki Palbatu baru dua yakni sanggar batik cantingku dan sanggar batik setapak. Hal ini akan bertamabah jika warga sudah terbuka akan melestarikan batik.

Konsep ini digagas pada Mei tahun lalu. Untuk memeriahkan acara ini keempat penggagas mengadakan Jakarta Batik Carnival pada 21-22 Mei 2011. Setelah berhasil pada acara pertama, untuk kali keduanya pada sabtu dan minggu 5-6 Mei 2012 diadakan kembali Jakarta Batik Carnival. Dengan menyuguhkan fesyen show batik, kuliner tradisional, bazar berbagai macam bahan motif batik.

Acara ini mendapat apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kali kedua. Pertama ditahun 2011 dengan kategori ‘Pengecatan jalan terpanjang dengan motif batik (minimal 100 meter)’. Kedua di tahun ini Palbatu memiliki jumlah rumah warga yang paling banyak dicat dengan motif batik total sekitar 100 rumah.

Terget yang akan dicapai selanjutnya memperluas Kampung Batik Palbatu ini. Yang awalnya baru satu Rw dicat bermotif batik akan mengecat seluruh kawasan Palbatu ini. “Saat ini memang baru Rw empat yang dijadikan Kampung Batik Palbatu, namun Kampung Batik Palbatu bukan milik Rw empat tetapi miliki semua.” Tegasnya diakhir-akhir wawancara.

 

(Andy Syaiful Fahmi)

Tinggalkan komentar

Feature Human Interest

Nenek Joko, Berjuang Sekuat Tenaga Demi Cucu

By Kaka Silmy Kaafah

 Gambar

 

Ket: 21/07 samping masjid Fatullah UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, nenek Joko berjualan buah ditengah teriknya matahari sambil membawa payung dan menjajakan buah-buahan.

 

Kamis siang, nenek Joko duduk di pinggir masjid ditengah  teriknya matahari. Nenek Joko duduk terdiam sambil membawa payung. Peluh menetes di pipinya yang keriput tergerus usia. Dia berumur 78 tahun. Di usia yang renta, ia tetap setiap hari  berjualan buah di samping masjid sedangkan paginya  ia berjualan nasi uduk di sekeliling pasar Ciputat. Dia tinggal di sebuah  kontrakan yang berukuran kecil di dekat pasar Ciputat bersama dengan 3 orang cucu yang selalu setia menemaninya. Nenek Joko memilki satu orang anak yang sudah berumah tangga namun karena keadaan ekonomi yang begitu sulit akhirnya nenek Joko tetap membanting tulang demi anak cucunya. Pendapatannya setiap hari berkisar antara 20 ribu sampai 30 ribu tergantung dari banyaknya buah dan nasi uduk yang berhasil ia jual.

Ia tidak membeli buah melainkan mengambil buah dari tetangganya yang berjualan buah jika buah tidak laku di jual maka ia akan mengembalikannya. ia  berjualan sendiri. Cucunya yang di biayai hanya satu orang, lelaki yang baru saja lulus SD. Cucu nenek bernama Adi, Adi menginginkan melanjutkan sekolah ke tingkat SMP namun nenek Joko tidak mempunyai uang yang lebih untuk membiayai pendidikan Adi ke tingkat SMP. Uang yang dia kumpulkan dari dulu hanya berjumlah 200 ribu sedangkan biaya pendaftaran sekolah Adi sebesar 300 ribu maka nenek Joko pun banting tulang demi mencari nafkah untuk Adi. Nenek Joko tidak pernah mengeluh meski kerap kali badannya terasa lelah di usianya yang senja. Dia tetap bekerja keras demi pendidikan cucunya. Di rumah nenek Joko berjuang sendiri untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya, belas kasihan tetangga kerap ia dapatkan ketika ia sudah tidak memiliki makanan. Nenek Joko berjualan buah seperti jambu, kesemek, sawo, jeruk bali dan pepaya.

Hasil jualan buah ia bagi dua dengan tetangganya yang menjadi distributor buah. Pendapatan yang tidak seberapa harus ditutupi dengan biaya hidup sehari-hari. Dulu kehidupan nenek Joko tidak seperti sekarang, ia hidup dengan bergelimang harta namun karena ia dijodohkan dengan orang tuanya ia kabur dari rumah dan hidup di jalanan.

Tinggalkan komentar

Peran Masjid Dalam Mencegah Radikalisme

Peran  Remaja Masjid Dalam Mencegah Radikalisme

By Kaka Silmy Kaafah

        “Masjid sangat berpengaruh untuk mencegah radikalisme di kalangan remaja,” ujar Hasbi, pria berusia 19 tahun yang juga seorang aktivis di Masjid Baiturrohmah, Legoso, Ciputat.

Ciputat, jum’at (8/6) masjid merupakan pilar bagi agama yang berpengaruh dalam kehidupan umat islam. Masjid sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter suatu umat. Muhammad Hasbiallah, salah seorang aktivis masjid Baiturrohmah di Legoso, Ciputat menuturkan bahwa masjid sangat berpengaruh bagi penyebaran paham-paham radikal di kalangan remaja namun radikalisme dapat dicegah dengan melakukan kegiatan positif didalam masjid yaitu dengan mengadakan pengajian mingguan serta diskusi mengenai topik yang sedang hangat diperbincangkan. Pengajian mingguan berupa pengkajian ilmu tafsir Al-quran.

Remaja masjid ikut berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan didalam masjid agar mencegah dari pemikiran-pemikiran yang radikal. Radikalisme telah menyentuh kalangan remaja dengan berkembangnya paham-paham di dalam suatu organisasi berbasis agama yang ada saat ini. Masjid berperan sebagai kontrol sosial bagi remaja dan anak muda untuk mengatur masyarakat terutama tentang paham radikal. Dengan dilakukannya pengkajian serta diskusi, remaja menjadi mengerti tentang isu dan topik yang sedang ramai diperbincangkan serta dipecahkan melalui diskusi agar terhindar dari pemikiran yang radikal. Remaja masjid berperan penting untuk mencegah pemikiran yang radikal, karena masjid merupakan tempat bernaung umat muslim, hasbi menuturkan,” masjid sangat berpengaruh untuk mencegah radikalisme dikalangan remaja.”

Radikalisme merupakan wacana yang dari dulu hingga sekarang masih ramai diperbincangkan karena masih maraknya organisasi berbasis islam yang bertindak radikal, di satu sisi ia menegakkan agama Allah namun disisi lain merugikan banyak pihak. Contohnya dengan menghancurkan tempat peribadatan agama lain. Masyarakat berperan sebagai kontrol sosial agar pemikiran radikal tertahan dan tidak meracuni pemikiran remaja saat ini. “radikalisme dan organisasi berbasis agama merupakan suatu dinamika didalam masyarakat karena negara kita negara multikultural,” ujar Hasbi. Radikalisme berkembang karena adanya pengaruh dari masyarakat sehingga melakukan diskusi tentang isu yang sedang ramai adalah suatu cara untuk meluruskan pemikiran remaja agar berkembang ke arah yang lebih baik. 

Tinggalkan komentar

Tugas wawancara pengurus masjid

 Tema              : Remaja Masjid dan Radikalisme

Judul              : Minimnya Kontribusi Remaja Terhadap Masjid

Nara sumber  : Ustat H. Marji Fauji, S.Pd.I (Kabid. Pendidikan dan Taklim)

Ojek                : Masjid Al-mubarokah Jl. Persada Raya Kel. Menteng dalam Kec. Tebet dan kediaman Ustat H. Marji Fauji.

Pertanyaan dan jawaban

1.      Apa saja kegiatan dakwah di masjid ini?

Kegiatan rutinitas, Shalat berjamaah; shubuh, zhuhur, ashar, magrib dan isya. kemudian taklim malam senin, selasa dan jumat, senin pagi dan minggu sore. Malem jumat khusus baca quran kaum bapak, senin pagi kaum ibu. Minggu sore qiroah kaum bapak/remaja. Alhamdulillah 30 juni nanti milad satu tahun Taman Kanak-Kanak Quran (Tkq) dan Taman Pendidikan Quran (Tpq).

2.      Pengajian khusus remaja ada tidak?

Khusus remaja awalnya ada Cuma tidak berjalan, diawal sudah berjalan namun berakhir begitu saja. Ada yang mengusulkan pengajian remaja diadakan lagi ya silakan saja. Kami dari pengurus mempersilakan kalau kaum remaja ingin ada pengajian khusus remaja. Pada prinsipnya kami setuju saja kalau ada pengajian kaum remaja.

3.      Siapa yang mengisi kegiatan tersebut?

Banyak yang mengisi dari ustad-ustad sini, ada juga ustad dari luar. Tapi kami kalau memilih ustad dari luar, kami benar-benar memilih ustad yang berbobot tidak asal-asalan. Masalahnya kalau dekat tak terlalu memikirkan ongkos transportasi hanya memberi hadiah guru saja.

4.      Dewasa ini anak remaja banyak yang memilih bersekolah di SMA atau SMK, bagaimana peran masjid agar generasi muda tak tertinggal dalam memahami agama?

Yaa. dari satu sisi saya lihat memang anak-anak belakangan ini banyak yang memilih sekolah umum atau kejuruan. Tidak hanya anaknya saja, orang tuanya begitu juga memotifasi anaknya untuk bersekolah umum atau kejuruan dengan maksud mencari pekerjaan menjadi mudah. Mereka melupakan agama, seharusnya di dunia ini agama harus dominan. Kenapa terjadi tawuran karna basic agama minim. Sudah di Sekolah minim, dirumah tidak diajarkan agama. Dalam hal ini Masjid mengharapkan remaja ikut partisipasi dalam pengajian kaum bapak. Kalau mau sendiri-sendiri ya silakan. Empat atau lima orang kumpul pengajian optimis akan jalan. Orang tersebut akan membawa yang lainya ikut pengajian remaja.

5.      Tahun lalu disini ada tawuran antar warga sini dengan sebelah, tepat depan masji tawuran berlangsung. Apa peran masjid menanggapi permasalahan tersebut tersebut?

Tawuran antar warga tahun lalu sudah langsung diurus oleh Rt dan Rw setempat. Pengurus masjid hanya memberikan himbauan, nasehat/ceramah kepada warga. Karna tawuran tersebut diluar acara, sehingga masjid tak berwenag langsung karna sudah ada RT dan Rw yang mengurus.

6.      Tanggapan ustad atas aksi bom bunuh diri Dani Dwi Permana, padahal ia seorang pengurus masjid. Namun ia bisa melakukan hal tersebut?

Startegi dakwah memang bermacam-macam, ruhul jihad yang tinggi dasarnya bagus. Mereka melihat kekejaman orang Amerika dan Yahudi menindas muslimin. Bagi mereka yang ruhul jihad tinggi emosionalnya tinggi terkadang meilhat kondisi seperti itu mereka timbul memiliki rasa pembalasan itu. Tapi ulama kite kan gak ngajarin begitu, kite gak sampe kesana.

7.      Tanggapan ustad terhadap aksi kekerasan mengatas namakan agama?

Sebenarnya dalam agama bukan keras tapi tegar, tegar kepada orang kafir dan kasih sayang sesama kita. Artinya kalau orang kafir memusuhi kita mereka duluan yang  memulai kita harus siap melawan. Sebab kafir inikan ada dua; kafir dzimmi dan kafir harbi. Nah kafir dzimmi kafir yang hidup rukun dengan kita, kafir harbi kafir yang kejam dengan kita. Salah satu kekerasan mengatas namakan agama, misal Front Pembela Islam (FPI) dengan berpegang “man roa minkum munkaron falyughoiyir biyadihi dan seterusnya kalau kemaksiatan dibiarkan saja azabnya tidak hanya pada mereka yang melakukan tapi kita juga kena. Nah FPI sudah memiliki prosedur yang benar pengusa adem-adem ayem saja terhadap kemaksiatan yang meraja rela. Nah mereka menegur dengan mengirim surat sampai tiga kali. Tidak ada respon dari sana FPI bergerak.

8.      Menanggapi media massa yang memberitakan suatu kekerasan agama, terutama agama Islam. Menurut ustad apakah sudah benar berita yang diinformasikan?

Media cetak atau elektronik didominasi orang-orang diluar Islam, sehingga informasi yang mereka siarkan sudah dipelintir. Kita mana ada media yang Islami, kita kalah dengan mereka. Di media hanya memberitakan “FPI Rusuh” padahal kan mereka sudah sesuai dengan prosedur. Media hanya melihat satu sisi saja, tanpa menggali lebih dalam. Kalau media memberitakan yang benar masyarakat akan tau siapa yang benar. Coba kita lihat di Asy-Syafiiyah dalam pengajian Mingguan Forum Umat Islam (FUI) memberikan penjelasan yang teratur dan berurut menolak kehadiran Lady Gaga. Pada akhirnya disetuji tanpa kekerasan, bicara dengan baik.

9.      Pesan ustad untuk remaja saat ini?

Yang penting bekali ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Karna dengan ilmu kita dapat menyelesaikan masalah. Tampilkan akhlaqul karimah di tengah-tengah masyarakat. Dekat dengan orang alim, dan banyak bertanya dengan hal yang agak ganjil jangan bertindak sendiri-sendiri tentu harus ada komunikasi.

Andy Syaiful Fahmi/UIN Jakarta.

Tinggalkan komentar

Wawancara Sekjen Forum Studi Islam FISIP UI: Seni itu Boleh, Asal Baik

Pencekalan Lady Gaga berujung pada konser ‘Born This Way Hall’ digagalkan oleh pihak manajemen Gaga sendiri (23/5). Upaya ini bisa dianggap sebagai keberhasilan dalam mencegah pengaruh buruk Gaga terhadap remaja, sekaligus dianggap sebagai kegagalan dalam menunjukkan kebebasan berekspresi melalui seni. Berikut adalah wawancara antara MemoMerah (MM) dengan Sekertaris Jenderal dari Forum Studi Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FSI FISIP UI), Utama Putra Rahmatullah (Utama):

MM     : Sebelumnya sudah tahu tentang pencekalan Lady Gaga?

Utama : Dari media, sih

MM     : Terus, sejauh ini bagaimana pendapat Mas Utama terkait pencekalan tersebut. Apakah pencekalan itu bisa dianggap keberhasilan atau sebenarnya sebuah hambatan untuk kebebasan seni?

Utama : Terlepas dari berbagai apa yang berkembang, kalau saya setuju dengan pencekalan itu. Saya melihat lebih bagaimana Lady Gaga berpemanpilan, dan juga katanya lirik-liriknya yang tidak sesuai dengan budaya yang kita anut, dan kehidupan beragama kita. 

MM     : Jadi menurut Anda ini keberhasilan?

Utama : Ya, keberhasilan.

MM     : Terus, batas-batas mana yang membuat Lady Gaga bisa dianggap tidak sesuai dengan norma Indonesia?

Utama : Iya, setahu saya dari melihat di Internet, berpakaiannya kurang baik, apalagi di video-video klipnya. Sekilas saya melihat. Juga lirik-liriknya ga terlalu tahu, dan tidak mau tahu. Cuma mendengarkan orang, kalau katanya liriknya bertentangan (dengan norma Indonesia)

MM     : Sebenarnya, kalau kita ingin menilai suatu karya seni itu bermasalah atau tidak itu, kita perlu bagian detail? Misalnya lirik ini melanggar. Menurut Mas Utama penting tidak organisasi-organisasi keislaman punya badan sensor tertentu? Atau, percaya saja pada sensor pemerintah?

Utama : Menurut saya, perlu. Tidak perlu juga membuat lembaga sensor sendiri, tapi kita memang harus perhatian. Ini juga menyangkut bangsa, pengaruhnya juga terhadap orang. Apa yang dilihat di media pasti membuat orang mencari tahu.

MM     : Kalau seandainya ada orang yang melihat karya seni, anggaplah Lady Gaga yang mengandung erotisme. Nah, dia sendiri sudah melihat hal yang haram?

Utama : Iya, sih. Benar juga.

MM     : Itu sebuah kontroversi, kan? Menurut Mas sejauh ini, apakah pengorbanan seperti ini (melihat karya seni yang mengandung erotisme) tidak apa-apa?

Utama : Jelas kalau kita tahu, ini amar makruf nahi munkar. Mencegah keburukan juga.

MM     : Asal jangan keterusan?

Utama : Iya, sih. Banyak di media, kan? Dangdut-dangdut itu. Kalau seperti itu, jangan kita malah membiarkan juga. Ini kita mencegah, jadi menambah. Kalau misalnya sudah ada, pasti peran apapun, entah ormas Islam, ulama, masyarakat yang memang perhatian dengan Islam, pasti mencegah juga yang namanya dangdut erotis, banyak hal yang kita bilang sebagai kemaksiatan di Indonesia. Mencegah kemaksiatan itu.

MM     : Kalau kita ingin mencegah, kita tidak cuma mencekal?

Utama : Iya.

MM     : Karena fokus kita ke pemuda sendiri, dimana mereka punya semangat rebel. Mereka tidak mau mengikuti orangtua mereka, mengikuti selera musiknya tahun 70an. Nah, menurut Mas apa peran masjid atau lembaga dakwah bisa memberikan mereka pemahaman, paling tidak ini musik tidak baik?

Utama : Iya, perlu. Jadi, itu yang perlu gencar disuarakan lewat lembaga-lembaga dakwah. Seperti kita pemuda lewat lembaga dakwah fakultas perlu pencerdasan juga. Minimal bikin tulisan atau diskusi-diskusi per orang di peer group kita. Perlu ada pengingatan, tapi memang yang saya tangkap selama ini arus media, tidak cuma di tv atau di koran, Internet yang paling sulit dibendung, terutama Youtube. Sekarang orang mudah download. Pasti Lady Gaga, orang Indonesia tahu dari Youtube, Twitter, dan Facebook. Juga televisi asing. Peran media besar sekali. Juga tadi orang muda tidak sama seleranya dengan orang zaman dahulu. Yang pasti sekarang lebih berkembang, lebih modern. Saya punya teman di kelas yang kecewa tidak bisa nonton.

MM     : Kalau kita lihat di lingkungan di UI banyak, istilahnya orang-orang pintar, mereka bisa digerakkan dengan diskusi atau aspek-aspek intelek. Kalau untuk kalangan di luar kampus, bagaimana cara menggerakkan biar mereka (pemuda) sadar bahwa ini sebenarnya dosa?

Utama : Di luar kampus memang tidak bisa memaksakan juga. Kalau menurut saya lebih ke kita sudah menyampaikan, sudah mencegah, sudah memberikan usaha berdasarkan Islam dengan cara yang baik juga.

MM     : Ada semacam tips dari lembaga dakwah untuk menyibukkan pemuda di masjid. Kalau orangtua di masjid sudah biasa. Bagaimana tips-tips dari FSI?

Utama : Pastinya kita bikin penuansaan, bagaimana orang melihat. Ada hal-hal yang membuat mereka tertarik tentang Islam. Artinya juga kita bikin kajian-kajian yang terbuka, semua orang bisa ikut, jadi lebih tahu tentang Islam. Minimal dengan lembaga dakwah, orang bisa melihat, akhirnya tertarik, dan kemudian ikut. Itu peran kita mengajak mereka. Peran kita sesama muslim seperti itu.

MM     : Ada pesan kepada seluruh pemuda di Indonesia?

Utama : Kita sebagai pemuda melaksanakan hal-hal positif. Hindari hal-hal negatif, narkoba dan segala macamnya. Kita juga bangsa yang beragama. Peran agama penting juga. Kita harus belajar mengkaji agama kita. Juga untuk soal seni, kita tidak boleh tidak berseni. Seni itu baik. Allah mencintai keindahan. Seni itu bagian dari keindahan sendiri. Tidak apa-apa sejauh yang baik, dan masih dibenarkan dalam Islam. Kalau yang sudah bertentangan atau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam, harus dihindari.

MM     : Jadi, seni itu dibenarkan tergantung isinya?

Utama : Tergantung isinya, tampilannya juga.

Pewawancara:

Ahmad Tombak Islam Al Ayyubi

Universitas Indonesia

Tinggalkan komentar

Tempel Memo

Memo Merah.

bukan sekedar memo yang ditempel, bukan pula berpesan pada satu obyek atau seseorang.

Memo Merah adalah tempelan untuk semua orang.

 

Berpesan. Menginformasi. Menginspirasi

Tempel Memo-mu